12 maret 2009, kamis 11:50 wib (waktu kontrakan)
*sambil dengerin Avenged sevenfold – Lost*
Yup bener namanya Rosi, wanita tercantik lahir batin yang ada di stasiun kereta yang pernah gw singgahi, itu menurut gw. Rosi adalah anak perempuan yang kira-kira berusia 10 tahun dan menghabiskan masa kecilnya di berbagai stasiun kereta Jabodetabek khususnya st.Juanda dan st.Manggarai.
Anak ini sebenarnya biasa aja, ga ada yang luar biasa bagi dirinya yang bertubuh kurus namun periang. Cuma anehnya dia banyak disukai oleh abang-abang pedagang yang sering berjualan di kereta dan begitu juga gw yang seorang mahasiswa yang sering melihat anak seusianya di sekolahan mahal di kota besar.
Dia sangat supel dan sangat polos sebagaimana anak orang berada yang banyak di kota-kota tapi bedanya dia adalah anak dan pedagang yang setiap hari menghabiskan waktunya bersama riuhnya stasiun dan berisiknya kereta. Tapi dari pengamatan gw, dia sangat menikmati kehidupannya di berbagai stasiun kereta.
Awal perjumpaan gw dengan Rosi terjadi sekitar awal bulan desember 2008 di salah satu kereta terakhir (kelas ekonomi) tujuan Bogor di st.Cikini. Saat itu gw yang emang sering merhatiin anak-anak kecil dikereta dibuat terperangah oleh segerombolan bocah perempuan yang sedang asik ngerumpi dikereta yang penuh oleh manusia yang pada sibuk sendiri.
Yang bikin gw terperangah adalah bahasa yang mereka gunakan saat ngerumpi di kereta, bahasanya sangat jarang digunakan oleh anak seusia mereka (usia mereka kira-kira sekitar 10tahun). Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa layaknya anak muda atau orang tua seperti: elo, gw bahkan jablai.
Saat itu gw hanya bisa tersenyum ga percaya dengan bahasa yang mereka gunakan dengan aksen betawi tulen, tapi biar gimanapun mereka semua hanyalah anak-anak yang mengikuti orang-orang disekitar mereka sebagai model sehingga gw ga mau salahkan mereka dengan kelakuan mereka tapi gw sangat menyayangkan orang disekitar mereka yang berhasil mendoktrin bocah polos ini.
Pada saat mereka ngerumpi gw merhatiin dan mendapatkan pentolan mereka yang bernama Sabrina biasa dipanggil Sab. Gw bilang Sabrina pentolannya karena mereka semua mengikuti apapun ucapannya termasuk Rosi. Tidak terasa gw udah nyampe stasiun tujuan gw dan gw pun turun dari kereta. Oiya pada waktu itu gw belum tau klo bocah paling cantik itu namanya Rosi.
Keesokan harinya gw ketinggalan kereta ekonomi non-AC terakhir yang mengharuskan gw menggunakan jasa Kereta ekonomi AC yang harga karcisnya EMPAT KALI LIPAT dari harga ekonomi non-AC! Selain itu gw harus menunggu sejam labih lama karena kereta ini tiba di stasiun sejam setelah kereta non-AC, tepatnya pukul 22:00.
Setelah menunggu selama sejam, kereta itu pun tiba dengan penumpang yang tidak begitu banyak, mungkin karena harga tiketnya yang mahal dan jam yang menunjukkan jam sepuluh malam yang berarti pengguna jasa kereta sudah mulai habis.
Begitu gw masuk, gw langsung ke pintu dan duduk di lantai karena tempat duduk yang tersedia sudah penuh. Saat kereta berjalan beberapa meter dari stasiun, ada seorang anak yang sedang ngobrol dengan sesama anak seusianya dan sedang memandang gw sambil sesekali tersenyum.
Gw langsung menoleh kearahnya dan dia berkata “bang yang kemarin kita satu kereta yah?” gw pun jawab “Oh yang kemarin yah, Sabrina mana?” Tanya gw yang langsung di jawab “Dia mah di depan bang bareng yang lain”, kemudian gw Tanya lagi “koq ga bareng?” Dia jawab lagi “dia duluan bang”, langsung gw tutup dengan kata “Ooh”.
Dari percakapan itu gw liat klo anak ini baik dan sopan serta supel, gw pun merhatiin dia dimana dengan baju yang lusuh, kulit yang hitam, rambut yang tidak terawat serta bawaan dia berupa keranjang plastic yang sepertinya itu perlengkapan dagangannya.
Setelah sampai di st.Manggarai dia menawarkan gw untuk duduk di disebelahnya karena tempat disebelahnya sudah kosong karena bapak-bapak yang duduk disebelahnya sudah turun duluan, tapi begitu gw noleh ke arah jendela ada seorang ibu yang siap masuk ke gerbong gw. Akhirnya gw tolak tawaran Rosi untuk duduk disebelahnya dan menyerahkan tempat itu pada ibu yang baru masuk kereta.
Rosi pun nanya ke gw, “bang koq ga mau duduk?” dan gw jawab “kasi yang lain aja”. Sebenarnya sih gw pengen banget duduk disebelahnya biar bisa ngobrol banyak dengan Rosi dan temannya tapi kepedulian gw terhadap ibu-ibu yang mau duduk mengalahkan ego gw untuk lebih dekat dengan Rosi. Hingga sampai stasiun tujuan gw, gw ga ngobrol banyak lagi dengan Rosi.
Setelah perjumpaan di kereta ekonomi AC itu, gw tambah sering bertemu dengan Rosi di kereta terakhir tujuan bogor di gerbong yang sama. Dari seringnya kami bertemu, gw pun bisa tau klo nama anak itu adalah Rosi.
Tapi sayangnya sebulan terakhir ini gw ga pernah lagi ketemu dengan Rosi, dan gw kangen banget amat dia. Pernah gw dengar suaranya di saat gw balik dengan kereta terakhir, karena gw kangen banget ama Rosi gw pun cari sumber suara itu, tapi ternyata bukan dia.
Dalam kesempatan ini gw Cuma mau bilang ama Rosi, “Rosi kamu dimana, abang kangen nih”. Gw juga berharap dia baik-baik aja dan tidak sakit, amin….
Ashben out...
Senin, 30 Maret 2009
Rabu, 18 Maret 2009
Semuanya Kacau di Bulan Februari
24 februari 2009, Kamis 10:30 (waktu kontrakan)
*sambil dengerin, Volvet Revolver – She Mine*
Gw kira dibulan februari ini gw bisa banyak bersantai karena gw lagi libur kuliah selama sebulan ini, tapi ternyata itu semua melenceng. Gw sibuk banget bulan februari ini dengan kegiatan Jong Pewarta (JePe) gw. Bukan hanya itu, rencana nabung (buat beli kamera) gw buyar pada bulan februari ini karena banyaknya pengeluaran. Belum lagi kesialan-kesialan yang selalu menyapaku.
Kesialan gw bulan ini dimulai dengan penipuan (sampai saat ini gw sebut penipuan), kenapa gw sebut penipuan? Ini dikarenakan gw memesan dua buah kaos dengan dua pedagang kaos berbeda kari Kaskus.us, tapi hasilnya sama, yaitu sampai sekarang kaos yang gw pesen BELUM DATANG. Padahal udah tiga mingu gw tunggu.
Gw pengen hubungi mereka tapi no. Hp mereka ada di Hp gw yang lagi rusak, kampret. Alhasil duit yang rencananya gw tabung itu , raib oleh dua pedagang kaos tersebut. Biar begitu gw tetep berharap bakal ada kejelasan tentang kaos gw ini. Udah ah, gak usah ngomongin dia, gak konsen gw. Selain kebuntuan di atas gw masih dapat nasib mujur di bulan februari ini, seperti IP semester gw naik secara tajam dan portfolio Jong Pewarta gw kelar walaupun diwarnai dengan banyak hukuman saat sidang.
Dah dulu ah, malas ngomongin bulan februari ini.
Ashben out…
*sambil dengerin, Volvet Revolver – She Mine*
Gw kira dibulan februari ini gw bisa banyak bersantai karena gw lagi libur kuliah selama sebulan ini, tapi ternyata itu semua melenceng. Gw sibuk banget bulan februari ini dengan kegiatan Jong Pewarta (JePe) gw. Bukan hanya itu, rencana nabung (buat beli kamera) gw buyar pada bulan februari ini karena banyaknya pengeluaran. Belum lagi kesialan-kesialan yang selalu menyapaku.
Kesialan gw bulan ini dimulai dengan penipuan (sampai saat ini gw sebut penipuan), kenapa gw sebut penipuan? Ini dikarenakan gw memesan dua buah kaos dengan dua pedagang kaos berbeda kari Kaskus.us, tapi hasilnya sama, yaitu sampai sekarang kaos yang gw pesen BELUM DATANG. Padahal udah tiga mingu gw tunggu.
Gw pengen hubungi mereka tapi no. Hp mereka ada di Hp gw yang lagi rusak, kampret. Alhasil duit yang rencananya gw tabung itu , raib oleh dua pedagang kaos tersebut. Biar begitu gw tetep berharap bakal ada kejelasan tentang kaos gw ini. Udah ah, gak usah ngomongin dia, gak konsen gw. Selain kebuntuan di atas gw masih dapat nasib mujur di bulan februari ini, seperti IP semester gw naik secara tajam dan portfolio Jong Pewarta gw kelar walaupun diwarnai dengan banyak hukuman saat sidang.
Dah dulu ah, malas ngomongin bulan februari ini.
Ashben out…
Behind The Examination (pt.2)
06 Februari 2009, jumat 05:21 (waktu kontrakan)
*sambil dengerin, Avenged Sevenfold - Warmnes On The Soul*
Hai teman-teman, tumben nih gw bangun pagi. Mengingat janji gw sebelumnya untuk posting cerita pas gw ujian terakhir di semester ini bakal gw laksanakan.
Ujian intel ternyata ribet juga, tidak kalah dengan dua ujian sebelumnya. Padahal gw udah siapin semuanya dari empat hari sebelumnya, mulai dari tinta print, bahan-bahan jilid seperti lakban dan kawan-kawannya, sampai laptop dan printnya udah gw panasin mesinnya (emang mobil). Bahkan gw udah siap nginap dikosan Yoyo (yang bagi gw seperti penjara Guantanamo) karena gw ujian jam 8 pagi, dan gw paling susah bangun pagi.
Oiya gw belum bilang kalau ujian intel itu kita melakukan scoring dan pelaporan sendiri di Lab. Psikologi di kampus gw lantai 3. Jadi kita bakal ngetik, print dan jilid laporan sendiri dalam waktu empat jam saja. Mana sebelum ujian gw tidur jam 03:30 dini hari karena begadang ama Yoyo.
Awalnya sih lancar waktu lagi scoring kecuali waktu kalkulator gw menunjukkan gejala KEHABISAN BATREI yang mengharuskan gw ekstra hati-hati supaya ga salah dalam menulis angka, tapi itu smua bisa saya lewati dengan selamat.
Badai mulai menghadang saat memasuki segmen ngeprint hasil ketikan gw menggunakan kertas yang udah dikasi stempel dari pihak kampus. Gw ngeprint nya salah karena letak stempel ada dibelakang kertas yang keprint dan akhirnya gw ngulang dan ternyata kembali salah, salahnya kali ini karena letak stempelnya ada dibagian bawah yang seharusnya ada di atas.
Gw pun langsung cancel print gw yang berimbas pada errornya sistem print gw, iya PRINT GW ERROR, mampusss deh gw. Gw langsung perbaikin print gw tapi malah numpuk file yang pending, gw pun tambah puyeng.
Sempat mikir untuk pakai jalan pintas untuk menghemat waktu (dan hemat tinta), gw berinisiatip numpang ngeprtint dengan cewe berjilbab di samping gw (belum tau namanya) yang dari tadi kayanya merhatiin gw yang ribet dan panik banget, dia pun menyanggupi menolong gw.
Tapi ternyata gw LUPA BAWA FLASHDISK untuk transfer data dan ternyata dia juga gak bawa flashdisk. Gw langsung nyari ditemen gw yang lain dan ternyata ga ada juga yang bawa flashdik, cilaka duabelas gw.
Akhhirnya gw balik lagi ke meja gw untuk melihat perkembangan print gw, dan disitu ada presiden BEM gw yang lagi nungguin cewenya. Berhubung meja gw didekat pintu jadi dia bisa bebas ngobrol ama gw dan langsung bilang “printnya lo matiin dulu”, gw pun langsung ngelakuin dan benar aja, file yang kepending tadi ilang.
Selamatlah gw, terus si cewe berkerudung (tanpa berkalung surban) itu nanya ke gw, “jadi ngeprint di gw ga”, gw langsung bilang, ga usah karena print gw uda bener. Semua gw chek lagi biar letak stempel benar dan akhirnya selesailah sesi print yang ribet ini.
Begitu masuk segmen jilid, gw langsung cari bahan yang udah gw siapin dari tadi malam yaitu plastic dan karton jilid. Tapi tuhan kembali manguji hambanya, PLASTIK JILID GW RUSAK karena gw tumpuk di tas, bodoh!
Gw bergeming langsung cari plastik jilid, karena gw yakin pasti temen gw ada yang bawa cadangan dan benar aja Ophy teman kuliah pagi gw bawa banyak, thanks yah phy! Begitu ngucapin terima kasih gw langsung ke meja gw untuk jilid, tapi begitu sampai di meja gw ada pengawas yang kasi kabar buruk kalau gw bakal jadi presiden, eh enggak deh dia bilang kalau waktu tinggal 5menit lagi!!
Begitu dengar berita buruk itu, gw langsung menjilid, tapi iiihhh ini kenapa lagi! Cutter gw ga bisa motong karton dan plastic jilid karena CUTTER GW BERKARAT, kampret! Untuk kesekian kalinya gw pun meninggalkan meja gw lagi untuk mencari bantuan yaitu cutter! Dan pencarian gw berakhir di meja Yoza yang cutternya lagi nganggur.
Begitu kepotong trus gw steples dan rapi tinggal di lakban. Tapi masyaoloh, cobaan apa lagi ini ya oloh. LAKBAN GW HABIS!!! Tanpa sadar gw teriak “yah mentok”, dan teriakan gw terdengar oleh cewe berjilbab samping meja gw dan hanya tertawa, mungkin dia keatawain gw yang penuh kutukan untuk ujian ini. Dia pun ngasi gw lakbannya, sapa pun namamu gw cuma mau bilang, terima kasih.
Begitu semuanya selesai gw langsung ngechek laporan gw dan semuanya lengkap, tapi begitu gw nengok ke depan dosen pengawas udah jalan keluar kelas membawa laporan kelas gw, itu berarti WAKTUNYA HABIS!! Gw pun buru-buru ngejar dia sambil teriak-teriak “Ibu laporan saya”, dosennya noleh dan bilang “kamu ga usah teriak-teriak gitu”. Ga maklum banget klo dosennya kesel gitu karena emang jarak gw ama dia ga jauh-jauh banget.
Begitu di chek ama dosennya ternyata gw BELUM NULIS NOMOR ABSEN di cover laporan gw, dang w pun nyengir malu. Udah teriak-teriak di belakangnya, laporang gw blom lengkap lagi, gondok deh dosen gw. Gw langsung nulis nomor absent pakai spidol dan laporan gw pun kelar, shodakalahu alazim.
Begitu gw balik ke ruangan ujian gw, gw di kasi KUE COKLAT ama dosen pengawas gw yang lain, thanks yah Bu Ika. Gw juga nyari cewe berjilbab yang tadi duduk disamping gw buat berterima kasih ama dia, tapi gak ketemu. Pokoknya siapapun kamu, gw kembali bilang terima kasih banyak.
Akhirnya kelar deh semester ini, gak berasa juga. Klo habis ujian artinya bayar kuliah lagi yang mahalnya minta ampun karena setara dengan harga bekas kamera Nikon D70s. Oiya, awal bulan Mei gw ke Makassar buat menghadiri wedding mpok gw tapi kayanya ga lama karena bertepatan ama jadwal UTS gw, hiks…
Ashben out…
*sambil dengerin, Avenged Sevenfold - Warmnes On The Soul*
Hai teman-teman, tumben nih gw bangun pagi. Mengingat janji gw sebelumnya untuk posting cerita pas gw ujian terakhir di semester ini bakal gw laksanakan.
Ujian intel ternyata ribet juga, tidak kalah dengan dua ujian sebelumnya. Padahal gw udah siapin semuanya dari empat hari sebelumnya, mulai dari tinta print, bahan-bahan jilid seperti lakban dan kawan-kawannya, sampai laptop dan printnya udah gw panasin mesinnya (emang mobil). Bahkan gw udah siap nginap dikosan Yoyo (yang bagi gw seperti penjara Guantanamo) karena gw ujian jam 8 pagi, dan gw paling susah bangun pagi.
Oiya gw belum bilang kalau ujian intel itu kita melakukan scoring dan pelaporan sendiri di Lab. Psikologi di kampus gw lantai 3. Jadi kita bakal ngetik, print dan jilid laporan sendiri dalam waktu empat jam saja. Mana sebelum ujian gw tidur jam 03:30 dini hari karena begadang ama Yoyo.
Awalnya sih lancar waktu lagi scoring kecuali waktu kalkulator gw menunjukkan gejala KEHABISAN BATREI yang mengharuskan gw ekstra hati-hati supaya ga salah dalam menulis angka, tapi itu smua bisa saya lewati dengan selamat.
Badai mulai menghadang saat memasuki segmen ngeprint hasil ketikan gw menggunakan kertas yang udah dikasi stempel dari pihak kampus. Gw ngeprint nya salah karena letak stempel ada dibelakang kertas yang keprint dan akhirnya gw ngulang dan ternyata kembali salah, salahnya kali ini karena letak stempelnya ada dibagian bawah yang seharusnya ada di atas.
Gw pun langsung cancel print gw yang berimbas pada errornya sistem print gw, iya PRINT GW ERROR, mampusss deh gw. Gw langsung perbaikin print gw tapi malah numpuk file yang pending, gw pun tambah puyeng.
Sempat mikir untuk pakai jalan pintas untuk menghemat waktu (dan hemat tinta), gw berinisiatip numpang ngeprtint dengan cewe berjilbab di samping gw (belum tau namanya) yang dari tadi kayanya merhatiin gw yang ribet dan panik banget, dia pun menyanggupi menolong gw.
Tapi ternyata gw LUPA BAWA FLASHDISK untuk transfer data dan ternyata dia juga gak bawa flashdisk. Gw langsung nyari ditemen gw yang lain dan ternyata ga ada juga yang bawa flashdik, cilaka duabelas gw.
Akhhirnya gw balik lagi ke meja gw untuk melihat perkembangan print gw, dan disitu ada presiden BEM gw yang lagi nungguin cewenya. Berhubung meja gw didekat pintu jadi dia bisa bebas ngobrol ama gw dan langsung bilang “printnya lo matiin dulu”, gw pun langsung ngelakuin dan benar aja, file yang kepending tadi ilang.
Selamatlah gw, terus si cewe berkerudung (tanpa berkalung surban) itu nanya ke gw, “jadi ngeprint di gw ga”, gw langsung bilang, ga usah karena print gw uda bener. Semua gw chek lagi biar letak stempel benar dan akhirnya selesailah sesi print yang ribet ini.
Begitu masuk segmen jilid, gw langsung cari bahan yang udah gw siapin dari tadi malam yaitu plastic dan karton jilid. Tapi tuhan kembali manguji hambanya, PLASTIK JILID GW RUSAK karena gw tumpuk di tas, bodoh!
Gw bergeming langsung cari plastik jilid, karena gw yakin pasti temen gw ada yang bawa cadangan dan benar aja Ophy teman kuliah pagi gw bawa banyak, thanks yah phy! Begitu ngucapin terima kasih gw langsung ke meja gw untuk jilid, tapi begitu sampai di meja gw ada pengawas yang kasi kabar buruk kalau gw bakal jadi presiden, eh enggak deh dia bilang kalau waktu tinggal 5menit lagi!!
Begitu dengar berita buruk itu, gw langsung menjilid, tapi iiihhh ini kenapa lagi! Cutter gw ga bisa motong karton dan plastic jilid karena CUTTER GW BERKARAT, kampret! Untuk kesekian kalinya gw pun meninggalkan meja gw lagi untuk mencari bantuan yaitu cutter! Dan pencarian gw berakhir di meja Yoza yang cutternya lagi nganggur.
Begitu kepotong trus gw steples dan rapi tinggal di lakban. Tapi masyaoloh, cobaan apa lagi ini ya oloh. LAKBAN GW HABIS!!! Tanpa sadar gw teriak “yah mentok”, dan teriakan gw terdengar oleh cewe berjilbab samping meja gw dan hanya tertawa, mungkin dia keatawain gw yang penuh kutukan untuk ujian ini. Dia pun ngasi gw lakbannya, sapa pun namamu gw cuma mau bilang, terima kasih.
Begitu semuanya selesai gw langsung ngechek laporan gw dan semuanya lengkap, tapi begitu gw nengok ke depan dosen pengawas udah jalan keluar kelas membawa laporan kelas gw, itu berarti WAKTUNYA HABIS!! Gw pun buru-buru ngejar dia sambil teriak-teriak “Ibu laporan saya”, dosennya noleh dan bilang “kamu ga usah teriak-teriak gitu”. Ga maklum banget klo dosennya kesel gitu karena emang jarak gw ama dia ga jauh-jauh banget.
Begitu di chek ama dosennya ternyata gw BELUM NULIS NOMOR ABSEN di cover laporan gw, dang w pun nyengir malu. Udah teriak-teriak di belakangnya, laporang gw blom lengkap lagi, gondok deh dosen gw. Gw langsung nulis nomor absent pakai spidol dan laporan gw pun kelar, shodakalahu alazim.
Begitu gw balik ke ruangan ujian gw, gw di kasi KUE COKLAT ama dosen pengawas gw yang lain, thanks yah Bu Ika. Gw juga nyari cewe berjilbab yang tadi duduk disamping gw buat berterima kasih ama dia, tapi gak ketemu. Pokoknya siapapun kamu, gw kembali bilang terima kasih banyak.
Akhirnya kelar deh semester ini, gak berasa juga. Klo habis ujian artinya bayar kuliah lagi yang mahalnya minta ampun karena setara dengan harga bekas kamera Nikon D70s. Oiya, awal bulan Mei gw ke Makassar buat menghadiri wedding mpok gw tapi kayanya ga lama karena bertepatan ama jadwal UTS gw, hiks…
Ashben out…
Langganan:
Postingan (Atom)