12 maret 2009, kamis 11:50 wib (waktu kontrakan)
*sambil dengerin Avenged sevenfold – Lost*
Yup bener namanya Rosi, wanita tercantik lahir batin yang ada di stasiun kereta yang pernah gw singgahi, itu menurut gw. Rosi adalah anak perempuan yang kira-kira berusia 10 tahun dan menghabiskan masa kecilnya di berbagai stasiun kereta Jabodetabek khususnya st.Juanda dan st.Manggarai.
Anak ini sebenarnya biasa aja, ga ada yang luar biasa bagi dirinya yang bertubuh kurus namun periang. Cuma anehnya dia banyak disukai oleh abang-abang pedagang yang sering berjualan di kereta dan begitu juga gw yang seorang mahasiswa yang sering melihat anak seusianya di sekolahan mahal di kota besar.
Dia sangat supel dan sangat polos sebagaimana anak orang berada yang banyak di kota-kota tapi bedanya dia adalah anak dan pedagang yang setiap hari menghabiskan waktunya bersama riuhnya stasiun dan berisiknya kereta. Tapi dari pengamatan gw, dia sangat menikmati kehidupannya di berbagai stasiun kereta.
Awal perjumpaan gw dengan Rosi terjadi sekitar awal bulan desember 2008 di salah satu kereta terakhir (kelas ekonomi) tujuan Bogor di st.Cikini. Saat itu gw yang emang sering merhatiin anak-anak kecil dikereta dibuat terperangah oleh segerombolan bocah perempuan yang sedang asik ngerumpi dikereta yang penuh oleh manusia yang pada sibuk sendiri.
Yang bikin gw terperangah adalah bahasa yang mereka gunakan saat ngerumpi di kereta, bahasanya sangat jarang digunakan oleh anak seusia mereka (usia mereka kira-kira sekitar 10tahun). Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa layaknya anak muda atau orang tua seperti: elo, gw bahkan jablai.
Saat itu gw hanya bisa tersenyum ga percaya dengan bahasa yang mereka gunakan dengan aksen betawi tulen, tapi biar gimanapun mereka semua hanyalah anak-anak yang mengikuti orang-orang disekitar mereka sebagai model sehingga gw ga mau salahkan mereka dengan kelakuan mereka tapi gw sangat menyayangkan orang disekitar mereka yang berhasil mendoktrin bocah polos ini.
Pada saat mereka ngerumpi gw merhatiin dan mendapatkan pentolan mereka yang bernama Sabrina biasa dipanggil Sab. Gw bilang Sabrina pentolannya karena mereka semua mengikuti apapun ucapannya termasuk Rosi. Tidak terasa gw udah nyampe stasiun tujuan gw dan gw pun turun dari kereta. Oiya pada waktu itu gw belum tau klo bocah paling cantik itu namanya Rosi.
Keesokan harinya gw ketinggalan kereta ekonomi non-AC terakhir yang mengharuskan gw menggunakan jasa Kereta ekonomi AC yang harga karcisnya EMPAT KALI LIPAT dari harga ekonomi non-AC! Selain itu gw harus menunggu sejam labih lama karena kereta ini tiba di stasiun sejam setelah kereta non-AC, tepatnya pukul 22:00.
Setelah menunggu selama sejam, kereta itu pun tiba dengan penumpang yang tidak begitu banyak, mungkin karena harga tiketnya yang mahal dan jam yang menunjukkan jam sepuluh malam yang berarti pengguna jasa kereta sudah mulai habis.
Begitu gw masuk, gw langsung ke pintu dan duduk di lantai karena tempat duduk yang tersedia sudah penuh. Saat kereta berjalan beberapa meter dari stasiun, ada seorang anak yang sedang ngobrol dengan sesama anak seusianya dan sedang memandang gw sambil sesekali tersenyum.
Gw langsung menoleh kearahnya dan dia berkata “bang yang kemarin kita satu kereta yah?” gw pun jawab “Oh yang kemarin yah, Sabrina mana?” Tanya gw yang langsung di jawab “Dia mah di depan bang bareng yang lain”, kemudian gw Tanya lagi “koq ga bareng?” Dia jawab lagi “dia duluan bang”, langsung gw tutup dengan kata “Ooh”.
Dari percakapan itu gw liat klo anak ini baik dan sopan serta supel, gw pun merhatiin dia dimana dengan baju yang lusuh, kulit yang hitam, rambut yang tidak terawat serta bawaan dia berupa keranjang plastic yang sepertinya itu perlengkapan dagangannya.
Setelah sampai di st.Manggarai dia menawarkan gw untuk duduk di disebelahnya karena tempat disebelahnya sudah kosong karena bapak-bapak yang duduk disebelahnya sudah turun duluan, tapi begitu gw noleh ke arah jendela ada seorang ibu yang siap masuk ke gerbong gw. Akhirnya gw tolak tawaran Rosi untuk duduk disebelahnya dan menyerahkan tempat itu pada ibu yang baru masuk kereta.
Rosi pun nanya ke gw, “bang koq ga mau duduk?” dan gw jawab “kasi yang lain aja”. Sebenarnya sih gw pengen banget duduk disebelahnya biar bisa ngobrol banyak dengan Rosi dan temannya tapi kepedulian gw terhadap ibu-ibu yang mau duduk mengalahkan ego gw untuk lebih dekat dengan Rosi. Hingga sampai stasiun tujuan gw, gw ga ngobrol banyak lagi dengan Rosi.
Setelah perjumpaan di kereta ekonomi AC itu, gw tambah sering bertemu dengan Rosi di kereta terakhir tujuan bogor di gerbong yang sama. Dari seringnya kami bertemu, gw pun bisa tau klo nama anak itu adalah Rosi.
Tapi sayangnya sebulan terakhir ini gw ga pernah lagi ketemu dengan Rosi, dan gw kangen banget amat dia. Pernah gw dengar suaranya di saat gw balik dengan kereta terakhir, karena gw kangen banget ama Rosi gw pun cari sumber suara itu, tapi ternyata bukan dia.
Dalam kesempatan ini gw Cuma mau bilang ama Rosi, “Rosi kamu dimana, abang kangen nih”. Gw juga berharap dia baik-baik aja dan tidak sakit, amin….
Ashben out...
Senin, 30 Maret 2009
Rabu, 18 Maret 2009
Semuanya Kacau di Bulan Februari
24 februari 2009, Kamis 10:30 (waktu kontrakan)
*sambil dengerin, Volvet Revolver – She Mine*
Gw kira dibulan februari ini gw bisa banyak bersantai karena gw lagi libur kuliah selama sebulan ini, tapi ternyata itu semua melenceng. Gw sibuk banget bulan februari ini dengan kegiatan Jong Pewarta (JePe) gw. Bukan hanya itu, rencana nabung (buat beli kamera) gw buyar pada bulan februari ini karena banyaknya pengeluaran. Belum lagi kesialan-kesialan yang selalu menyapaku.
Kesialan gw bulan ini dimulai dengan penipuan (sampai saat ini gw sebut penipuan), kenapa gw sebut penipuan? Ini dikarenakan gw memesan dua buah kaos dengan dua pedagang kaos berbeda kari Kaskus.us, tapi hasilnya sama, yaitu sampai sekarang kaos yang gw pesen BELUM DATANG. Padahal udah tiga mingu gw tunggu.
Gw pengen hubungi mereka tapi no. Hp mereka ada di Hp gw yang lagi rusak, kampret. Alhasil duit yang rencananya gw tabung itu , raib oleh dua pedagang kaos tersebut. Biar begitu gw tetep berharap bakal ada kejelasan tentang kaos gw ini. Udah ah, gak usah ngomongin dia, gak konsen gw. Selain kebuntuan di atas gw masih dapat nasib mujur di bulan februari ini, seperti IP semester gw naik secara tajam dan portfolio Jong Pewarta gw kelar walaupun diwarnai dengan banyak hukuman saat sidang.
Dah dulu ah, malas ngomongin bulan februari ini.
Ashben out…
*sambil dengerin, Volvet Revolver – She Mine*
Gw kira dibulan februari ini gw bisa banyak bersantai karena gw lagi libur kuliah selama sebulan ini, tapi ternyata itu semua melenceng. Gw sibuk banget bulan februari ini dengan kegiatan Jong Pewarta (JePe) gw. Bukan hanya itu, rencana nabung (buat beli kamera) gw buyar pada bulan februari ini karena banyaknya pengeluaran. Belum lagi kesialan-kesialan yang selalu menyapaku.
Kesialan gw bulan ini dimulai dengan penipuan (sampai saat ini gw sebut penipuan), kenapa gw sebut penipuan? Ini dikarenakan gw memesan dua buah kaos dengan dua pedagang kaos berbeda kari Kaskus.us, tapi hasilnya sama, yaitu sampai sekarang kaos yang gw pesen BELUM DATANG. Padahal udah tiga mingu gw tunggu.
Gw pengen hubungi mereka tapi no. Hp mereka ada di Hp gw yang lagi rusak, kampret. Alhasil duit yang rencananya gw tabung itu , raib oleh dua pedagang kaos tersebut. Biar begitu gw tetep berharap bakal ada kejelasan tentang kaos gw ini. Udah ah, gak usah ngomongin dia, gak konsen gw. Selain kebuntuan di atas gw masih dapat nasib mujur di bulan februari ini, seperti IP semester gw naik secara tajam dan portfolio Jong Pewarta gw kelar walaupun diwarnai dengan banyak hukuman saat sidang.
Dah dulu ah, malas ngomongin bulan februari ini.
Ashben out…
Behind The Examination (pt.2)
06 Februari 2009, jumat 05:21 (waktu kontrakan)
*sambil dengerin, Avenged Sevenfold - Warmnes On The Soul*
Hai teman-teman, tumben nih gw bangun pagi. Mengingat janji gw sebelumnya untuk posting cerita pas gw ujian terakhir di semester ini bakal gw laksanakan.
Ujian intel ternyata ribet juga, tidak kalah dengan dua ujian sebelumnya. Padahal gw udah siapin semuanya dari empat hari sebelumnya, mulai dari tinta print, bahan-bahan jilid seperti lakban dan kawan-kawannya, sampai laptop dan printnya udah gw panasin mesinnya (emang mobil). Bahkan gw udah siap nginap dikosan Yoyo (yang bagi gw seperti penjara Guantanamo) karena gw ujian jam 8 pagi, dan gw paling susah bangun pagi.
Oiya gw belum bilang kalau ujian intel itu kita melakukan scoring dan pelaporan sendiri di Lab. Psikologi di kampus gw lantai 3. Jadi kita bakal ngetik, print dan jilid laporan sendiri dalam waktu empat jam saja. Mana sebelum ujian gw tidur jam 03:30 dini hari karena begadang ama Yoyo.
Awalnya sih lancar waktu lagi scoring kecuali waktu kalkulator gw menunjukkan gejala KEHABISAN BATREI yang mengharuskan gw ekstra hati-hati supaya ga salah dalam menulis angka, tapi itu smua bisa saya lewati dengan selamat.
Badai mulai menghadang saat memasuki segmen ngeprint hasil ketikan gw menggunakan kertas yang udah dikasi stempel dari pihak kampus. Gw ngeprint nya salah karena letak stempel ada dibelakang kertas yang keprint dan akhirnya gw ngulang dan ternyata kembali salah, salahnya kali ini karena letak stempelnya ada dibagian bawah yang seharusnya ada di atas.
Gw pun langsung cancel print gw yang berimbas pada errornya sistem print gw, iya PRINT GW ERROR, mampusss deh gw. Gw langsung perbaikin print gw tapi malah numpuk file yang pending, gw pun tambah puyeng.
Sempat mikir untuk pakai jalan pintas untuk menghemat waktu (dan hemat tinta), gw berinisiatip numpang ngeprtint dengan cewe berjilbab di samping gw (belum tau namanya) yang dari tadi kayanya merhatiin gw yang ribet dan panik banget, dia pun menyanggupi menolong gw.
Tapi ternyata gw LUPA BAWA FLASHDISK untuk transfer data dan ternyata dia juga gak bawa flashdisk. Gw langsung nyari ditemen gw yang lain dan ternyata ga ada juga yang bawa flashdik, cilaka duabelas gw.
Akhhirnya gw balik lagi ke meja gw untuk melihat perkembangan print gw, dan disitu ada presiden BEM gw yang lagi nungguin cewenya. Berhubung meja gw didekat pintu jadi dia bisa bebas ngobrol ama gw dan langsung bilang “printnya lo matiin dulu”, gw pun langsung ngelakuin dan benar aja, file yang kepending tadi ilang.
Selamatlah gw, terus si cewe berkerudung (tanpa berkalung surban) itu nanya ke gw, “jadi ngeprint di gw ga”, gw langsung bilang, ga usah karena print gw uda bener. Semua gw chek lagi biar letak stempel benar dan akhirnya selesailah sesi print yang ribet ini.
Begitu masuk segmen jilid, gw langsung cari bahan yang udah gw siapin dari tadi malam yaitu plastic dan karton jilid. Tapi tuhan kembali manguji hambanya, PLASTIK JILID GW RUSAK karena gw tumpuk di tas, bodoh!
Gw bergeming langsung cari plastik jilid, karena gw yakin pasti temen gw ada yang bawa cadangan dan benar aja Ophy teman kuliah pagi gw bawa banyak, thanks yah phy! Begitu ngucapin terima kasih gw langsung ke meja gw untuk jilid, tapi begitu sampai di meja gw ada pengawas yang kasi kabar buruk kalau gw bakal jadi presiden, eh enggak deh dia bilang kalau waktu tinggal 5menit lagi!!
Begitu dengar berita buruk itu, gw langsung menjilid, tapi iiihhh ini kenapa lagi! Cutter gw ga bisa motong karton dan plastic jilid karena CUTTER GW BERKARAT, kampret! Untuk kesekian kalinya gw pun meninggalkan meja gw lagi untuk mencari bantuan yaitu cutter! Dan pencarian gw berakhir di meja Yoza yang cutternya lagi nganggur.
Begitu kepotong trus gw steples dan rapi tinggal di lakban. Tapi masyaoloh, cobaan apa lagi ini ya oloh. LAKBAN GW HABIS!!! Tanpa sadar gw teriak “yah mentok”, dan teriakan gw terdengar oleh cewe berjilbab samping meja gw dan hanya tertawa, mungkin dia keatawain gw yang penuh kutukan untuk ujian ini. Dia pun ngasi gw lakbannya, sapa pun namamu gw cuma mau bilang, terima kasih.
Begitu semuanya selesai gw langsung ngechek laporan gw dan semuanya lengkap, tapi begitu gw nengok ke depan dosen pengawas udah jalan keluar kelas membawa laporan kelas gw, itu berarti WAKTUNYA HABIS!! Gw pun buru-buru ngejar dia sambil teriak-teriak “Ibu laporan saya”, dosennya noleh dan bilang “kamu ga usah teriak-teriak gitu”. Ga maklum banget klo dosennya kesel gitu karena emang jarak gw ama dia ga jauh-jauh banget.
Begitu di chek ama dosennya ternyata gw BELUM NULIS NOMOR ABSEN di cover laporan gw, dang w pun nyengir malu. Udah teriak-teriak di belakangnya, laporang gw blom lengkap lagi, gondok deh dosen gw. Gw langsung nulis nomor absent pakai spidol dan laporan gw pun kelar, shodakalahu alazim.
Begitu gw balik ke ruangan ujian gw, gw di kasi KUE COKLAT ama dosen pengawas gw yang lain, thanks yah Bu Ika. Gw juga nyari cewe berjilbab yang tadi duduk disamping gw buat berterima kasih ama dia, tapi gak ketemu. Pokoknya siapapun kamu, gw kembali bilang terima kasih banyak.
Akhirnya kelar deh semester ini, gak berasa juga. Klo habis ujian artinya bayar kuliah lagi yang mahalnya minta ampun karena setara dengan harga bekas kamera Nikon D70s. Oiya, awal bulan Mei gw ke Makassar buat menghadiri wedding mpok gw tapi kayanya ga lama karena bertepatan ama jadwal UTS gw, hiks…
Ashben out…
*sambil dengerin, Avenged Sevenfold - Warmnes On The Soul*
Hai teman-teman, tumben nih gw bangun pagi. Mengingat janji gw sebelumnya untuk posting cerita pas gw ujian terakhir di semester ini bakal gw laksanakan.
Ujian intel ternyata ribet juga, tidak kalah dengan dua ujian sebelumnya. Padahal gw udah siapin semuanya dari empat hari sebelumnya, mulai dari tinta print, bahan-bahan jilid seperti lakban dan kawan-kawannya, sampai laptop dan printnya udah gw panasin mesinnya (emang mobil). Bahkan gw udah siap nginap dikosan Yoyo (yang bagi gw seperti penjara Guantanamo) karena gw ujian jam 8 pagi, dan gw paling susah bangun pagi.
Oiya gw belum bilang kalau ujian intel itu kita melakukan scoring dan pelaporan sendiri di Lab. Psikologi di kampus gw lantai 3. Jadi kita bakal ngetik, print dan jilid laporan sendiri dalam waktu empat jam saja. Mana sebelum ujian gw tidur jam 03:30 dini hari karena begadang ama Yoyo.
Awalnya sih lancar waktu lagi scoring kecuali waktu kalkulator gw menunjukkan gejala KEHABISAN BATREI yang mengharuskan gw ekstra hati-hati supaya ga salah dalam menulis angka, tapi itu smua bisa saya lewati dengan selamat.
Badai mulai menghadang saat memasuki segmen ngeprint hasil ketikan gw menggunakan kertas yang udah dikasi stempel dari pihak kampus. Gw ngeprint nya salah karena letak stempel ada dibelakang kertas yang keprint dan akhirnya gw ngulang dan ternyata kembali salah, salahnya kali ini karena letak stempelnya ada dibagian bawah yang seharusnya ada di atas.
Gw pun langsung cancel print gw yang berimbas pada errornya sistem print gw, iya PRINT GW ERROR, mampusss deh gw. Gw langsung perbaikin print gw tapi malah numpuk file yang pending, gw pun tambah puyeng.
Sempat mikir untuk pakai jalan pintas untuk menghemat waktu (dan hemat tinta), gw berinisiatip numpang ngeprtint dengan cewe berjilbab di samping gw (belum tau namanya) yang dari tadi kayanya merhatiin gw yang ribet dan panik banget, dia pun menyanggupi menolong gw.
Tapi ternyata gw LUPA BAWA FLASHDISK untuk transfer data dan ternyata dia juga gak bawa flashdisk. Gw langsung nyari ditemen gw yang lain dan ternyata ga ada juga yang bawa flashdik, cilaka duabelas gw.
Akhhirnya gw balik lagi ke meja gw untuk melihat perkembangan print gw, dan disitu ada presiden BEM gw yang lagi nungguin cewenya. Berhubung meja gw didekat pintu jadi dia bisa bebas ngobrol ama gw dan langsung bilang “printnya lo matiin dulu”, gw pun langsung ngelakuin dan benar aja, file yang kepending tadi ilang.
Selamatlah gw, terus si cewe berkerudung (tanpa berkalung surban) itu nanya ke gw, “jadi ngeprint di gw ga”, gw langsung bilang, ga usah karena print gw uda bener. Semua gw chek lagi biar letak stempel benar dan akhirnya selesailah sesi print yang ribet ini.
Begitu masuk segmen jilid, gw langsung cari bahan yang udah gw siapin dari tadi malam yaitu plastic dan karton jilid. Tapi tuhan kembali manguji hambanya, PLASTIK JILID GW RUSAK karena gw tumpuk di tas, bodoh!
Gw bergeming langsung cari plastik jilid, karena gw yakin pasti temen gw ada yang bawa cadangan dan benar aja Ophy teman kuliah pagi gw bawa banyak, thanks yah phy! Begitu ngucapin terima kasih gw langsung ke meja gw untuk jilid, tapi begitu sampai di meja gw ada pengawas yang kasi kabar buruk kalau gw bakal jadi presiden, eh enggak deh dia bilang kalau waktu tinggal 5menit lagi!!
Begitu dengar berita buruk itu, gw langsung menjilid, tapi iiihhh ini kenapa lagi! Cutter gw ga bisa motong karton dan plastic jilid karena CUTTER GW BERKARAT, kampret! Untuk kesekian kalinya gw pun meninggalkan meja gw lagi untuk mencari bantuan yaitu cutter! Dan pencarian gw berakhir di meja Yoza yang cutternya lagi nganggur.
Begitu kepotong trus gw steples dan rapi tinggal di lakban. Tapi masyaoloh, cobaan apa lagi ini ya oloh. LAKBAN GW HABIS!!! Tanpa sadar gw teriak “yah mentok”, dan teriakan gw terdengar oleh cewe berjilbab samping meja gw dan hanya tertawa, mungkin dia keatawain gw yang penuh kutukan untuk ujian ini. Dia pun ngasi gw lakbannya, sapa pun namamu gw cuma mau bilang, terima kasih.
Begitu semuanya selesai gw langsung ngechek laporan gw dan semuanya lengkap, tapi begitu gw nengok ke depan dosen pengawas udah jalan keluar kelas membawa laporan kelas gw, itu berarti WAKTUNYA HABIS!! Gw pun buru-buru ngejar dia sambil teriak-teriak “Ibu laporan saya”, dosennya noleh dan bilang “kamu ga usah teriak-teriak gitu”. Ga maklum banget klo dosennya kesel gitu karena emang jarak gw ama dia ga jauh-jauh banget.
Begitu di chek ama dosennya ternyata gw BELUM NULIS NOMOR ABSEN di cover laporan gw, dang w pun nyengir malu. Udah teriak-teriak di belakangnya, laporang gw blom lengkap lagi, gondok deh dosen gw. Gw langsung nulis nomor absent pakai spidol dan laporan gw pun kelar, shodakalahu alazim.
Begitu gw balik ke ruangan ujian gw, gw di kasi KUE COKLAT ama dosen pengawas gw yang lain, thanks yah Bu Ika. Gw juga nyari cewe berjilbab yang tadi duduk disamping gw buat berterima kasih ama dia, tapi gak ketemu. Pokoknya siapapun kamu, gw kembali bilang terima kasih banyak.
Akhirnya kelar deh semester ini, gak berasa juga. Klo habis ujian artinya bayar kuliah lagi yang mahalnya minta ampun karena setara dengan harga bekas kamera Nikon D70s. Oiya, awal bulan Mei gw ke Makassar buat menghadiri wedding mpok gw tapi kayanya ga lama karena bertepatan ama jadwal UTS gw, hiks…
Ashben out…
Kamis, 05 Februari 2009
Behind The Examination (pt.1)
5 Februari 2009, kamis 01:07 (waktu kontrakan)
*Sambil dengerin, Metallica - The Day That Never Come*
Asiiik libur telah tiba, hore-horeeee! Nyantai deh gw setelah menghabiskan banyak kekuatan pikiran dan batin, sekarang tinggal tunggu hasil ujian tanggal 13februari besok. Selain nyantai dibulan februari gw juga bakal menjalani usaha gw untuk mendapatkan kamera impian gw, dengan cara menabung.
Ujian gw dimulai dengan mata kuliah psi.Eksperimen yang dimulai di pagi hari. Sebenarnya sih bisa gw kerjain tuh ujian tapi berhubung tadi malam gw belajarnya SKS (sistem kebut semalam) alhasil gw pun gak tidur semalaman (60% belajar dan 40% maen). Dan sebelum gw belajar, terdengar gossip klo ujian eksperimen itu soalnya ada PG (pilihan ganda) dan essay (UAS biasanya Cuma PG), otomatis gw harus menghafal lebih banyak dari biasanya karena disertai rumus, mampussss.
Gw pun ke kampus seperti orang mabok, dengan gejala seperti jalan sempoyongan, kepala puyeng, ngomong ngelantur dan mata merah yang membengkak. Ujian eksperimen pun dimulai dan soalnya, ESSAY SEMUA, KAMPREEET! Tau gitu kan gw gak usah belajar banyak karena ternyata RUMUSNYA UDAH ADA DI SOALNYA, DOUBLE KAMPREEET!
Setelah melewati ujian eksperimen, gw pun langsung mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya yaitu ujian Psi.kepribadian2. Tapi begitu gw mau membaca bahan ujian, gw udah merasa ga nyaman dan hal yang gw takuti dari tadi pagi mulai muncul, yaitu mengantuk. Wah mampus nih gw klo gw ketiduran karena ujian tingal sejam lagi.
Gw takut banget kalau ketiduran disaat belajar, apalagi diluar hujan deras yang bisa merayu gw untuk tidur. Tapi gw gak habis akal, gw tetap cari usaha untuk tetap melek. Usaha gw mulai dari cuci muka besrta kepala dan sholat dzuhur disertai doa biar ujian gw lancar (dan dapat contekan). Gw pun mulai agak segar.
Tapi setelah ujian berjalan, ngantuk mulai menyapa gw lagi bahkan dengan serangn yang lebih hebat. Gw berusaha untuk bertahan tapi godaan begitu besar dan setelah ujian berlagsung selama 50menit (gw baru jawab 8soal) gw pun dengan sukses tertidur!! Iya gw TERTIDUR DI RUANGAN UJIAN, bagoouuuuss.
Kira-kira setengah jam kemudian gw pun terbangun dan sumpah, seger banget kaya baru bangun tidur (yaiyalah). Tapi gw langsung dapat kabar buruk dari pengawas ujian, yaitu ujian tinggal 30menit lagi dan gw harus jawab 67soal dalam waktu 30menit itu, habislah gw.
Gw pun bingung, ling-lung, sters, frustasi trus gila, ehh ga deh, lebay dikit biar nambah kesan dramatisirnya. Terlintas dipikiran gw, nyontek aja tapi dengan sumber yang terpercaya. Gw pun langsung mencari teman yang mau menolongku dari lubang buaya ini dan begitu gw menghadap belakang, ada Sheila cewe berjilbab dengan lembar jawaban nyaris penuh, alahamdulialh. Gw pengen sujud sukur tapi takut di omelin pengawas.
Begitu gw lirik lembar jawabannya dia pun merespon dengan mengangkat lembar soalnya sehingga jawabannya jelas terlihat. Tanpa basa-basi gw pun melahap jawaban Sheila dengan ganas, sekali noleh gw bisa dapat 5-7jawaban. Selanjutnya kalian tau, kurang dari 20menit lembar jawaban gw tinggal menyisakan 6soal doang yang kosong, mantabbhhh.
6soal itu pun bisa gw atasin dengan berbagai cara mulai dari pake otak gw sampai pakai otaknya Sheila lagi, dan akhirnya ujian kepribadian2 gw pun kelar dengan sukses. Begitu keluar dari kelas gw langsung berterima kasih dengan Sheila dengan caramau menikahinya dia tapi ternyata dia minta gw berterima ksih denga cara yang lain, gw pun bersalaman.
Gw pun tinggal memikirkan ujian terakhir yaitu, ujian Intelegensi. Ujian ini sih kayanya gampang karena ujian di Lab.psikologi. Cuma pasti lebih ribet karena gw harus scoring sendiri, ngetik laporan sendiri, jilid sendiri dan mandi sendiri. Tapi untungnya lancer, ntar aja ceritanya di posting selanjutnya.
Oiya kemarin pagi gw dapat kabar dari salah satu mpok gw di Makassar bakal melangsungkan pernikahan sekitar bulan Mei (gak pake meibi yes-meibi no) dan gw pun diminta untuk mengusulkan tanggal biar tidak bentrok dengan kuliah dan bisa hadir.
Wah seneng banget gw klo mpok gw jadi merit tahun ini tapi disatu sisi gw iri banget ama dia karena gw juga pengen merit tapi mamayukero belum mengizinkan selain itu Asmirandah juga kayanya belum siap.
Congra to my love sista, have a nice wedding….
Ashben out….
*Sambil dengerin, Metallica - The Day That Never Come*
Asiiik libur telah tiba, hore-horeeee! Nyantai deh gw setelah menghabiskan banyak kekuatan pikiran dan batin, sekarang tinggal tunggu hasil ujian tanggal 13februari besok. Selain nyantai dibulan februari gw juga bakal menjalani usaha gw untuk mendapatkan kamera impian gw, dengan cara menabung.
Ujian gw dimulai dengan mata kuliah psi.Eksperimen yang dimulai di pagi hari. Sebenarnya sih bisa gw kerjain tuh ujian tapi berhubung tadi malam gw belajarnya SKS (sistem kebut semalam) alhasil gw pun gak tidur semalaman (60% belajar dan 40% maen). Dan sebelum gw belajar, terdengar gossip klo ujian eksperimen itu soalnya ada PG (pilihan ganda) dan essay (UAS biasanya Cuma PG), otomatis gw harus menghafal lebih banyak dari biasanya karena disertai rumus, mampussss.
Gw pun ke kampus seperti orang mabok, dengan gejala seperti jalan sempoyongan, kepala puyeng, ngomong ngelantur dan mata merah yang membengkak. Ujian eksperimen pun dimulai dan soalnya, ESSAY SEMUA, KAMPREEET! Tau gitu kan gw gak usah belajar banyak karena ternyata RUMUSNYA UDAH ADA DI SOALNYA, DOUBLE KAMPREEET!
Setelah melewati ujian eksperimen, gw pun langsung mempersiapkan diri untuk ujian selanjutnya yaitu ujian Psi.kepribadian2. Tapi begitu gw mau membaca bahan ujian, gw udah merasa ga nyaman dan hal yang gw takuti dari tadi pagi mulai muncul, yaitu mengantuk. Wah mampus nih gw klo gw ketiduran karena ujian tingal sejam lagi.
Gw takut banget kalau ketiduran disaat belajar, apalagi diluar hujan deras yang bisa merayu gw untuk tidur. Tapi gw gak habis akal, gw tetap cari usaha untuk tetap melek. Usaha gw mulai dari cuci muka besrta kepala dan sholat dzuhur disertai doa biar ujian gw lancar (dan dapat contekan). Gw pun mulai agak segar.
Tapi setelah ujian berjalan, ngantuk mulai menyapa gw lagi bahkan dengan serangn yang lebih hebat. Gw berusaha untuk bertahan tapi godaan begitu besar dan setelah ujian berlagsung selama 50menit (gw baru jawab 8soal) gw pun dengan sukses tertidur!! Iya gw TERTIDUR DI RUANGAN UJIAN, bagoouuuuss.
Kira-kira setengah jam kemudian gw pun terbangun dan sumpah, seger banget kaya baru bangun tidur (yaiyalah). Tapi gw langsung dapat kabar buruk dari pengawas ujian, yaitu ujian tinggal 30menit lagi dan gw harus jawab 67soal dalam waktu 30menit itu, habislah gw.
Gw pun bingung, ling-lung, sters, frustasi trus gila, ehh ga deh, lebay dikit biar nambah kesan dramatisirnya. Terlintas dipikiran gw, nyontek aja tapi dengan sumber yang terpercaya. Gw pun langsung mencari teman yang mau menolongku dari lubang buaya ini dan begitu gw menghadap belakang, ada Sheila cewe berjilbab dengan lembar jawaban nyaris penuh, alahamdulialh. Gw pengen sujud sukur tapi takut di omelin pengawas.
Begitu gw lirik lembar jawabannya dia pun merespon dengan mengangkat lembar soalnya sehingga jawabannya jelas terlihat. Tanpa basa-basi gw pun melahap jawaban Sheila dengan ganas, sekali noleh gw bisa dapat 5-7jawaban. Selanjutnya kalian tau, kurang dari 20menit lembar jawaban gw tinggal menyisakan 6soal doang yang kosong, mantabbhhh.
6soal itu pun bisa gw atasin dengan berbagai cara mulai dari pake otak gw sampai pakai otaknya Sheila lagi, dan akhirnya ujian kepribadian2 gw pun kelar dengan sukses. Begitu keluar dari kelas gw langsung berterima kasih dengan Sheila dengan caramau menikahinya dia tapi ternyata dia minta gw berterima ksih denga cara yang lain, gw pun bersalaman.
Gw pun tinggal memikirkan ujian terakhir yaitu, ujian Intelegensi. Ujian ini sih kayanya gampang karena ujian di Lab.psikologi. Cuma pasti lebih ribet karena gw harus scoring sendiri, ngetik laporan sendiri, jilid sendiri dan mandi sendiri. Tapi untungnya lancer, ntar aja ceritanya di posting selanjutnya.
Oiya kemarin pagi gw dapat kabar dari salah satu mpok gw di Makassar bakal melangsungkan pernikahan sekitar bulan Mei (gak pake meibi yes-meibi no) dan gw pun diminta untuk mengusulkan tanggal biar tidak bentrok dengan kuliah dan bisa hadir.
Wah seneng banget gw klo mpok gw jadi merit tahun ini tapi disatu sisi gw iri banget ama dia karena gw juga pengen merit tapi mamayukero belum mengizinkan selain itu Asmirandah juga kayanya belum siap.
Congra to my love sista, have a nice wedding….
Ashben out….
Meja Perpus Kampret!!!
28 januari 2009, Rabu 03:07 dini hari (waktu kontrakan)
*Sambil dengerin Roy Jeconiah – Kamu Nyata*
Sebelumnya selamat merayakan imlek yah bagi yang merayakan, semoga di tahun kerbau api (map klo salah) ini kalian semua bisa tambah lebih baik memaknai arti hidup.
Wah teman-teman tadi di perpustakaan kampus gw dapat pengalaman yang menghebohkan jiwa dan raga gw. Begini ceritanya, tadi sore sekitar pukul 16:30 WIB gw tiba di kampus untuk ngembaliin buku psi.eksperimennya Fajar temen gw, tapi ternyata pas gw nyampe kampus dia masih di rumahnya di Bekasi. Kampret lo jar.
Karena ga ada temen yang gw kenal nongkrong di loby kampus, gw pun langsung masuk ke kampus untuk online karena berhubung gw lagi bawa laptop. Di perpus lumayan lah ada sekitar lima orang gw kenal yang tergabung dalam satu meja, pengen gabung ama mereka tapi kursi udah penuh selain itu gw juga ga mau deket-deket ama mereka karena ntar pada ga konsen belajar gara-gara satu meja ama gw yang berisik banget kalau di perpus.
Alhasil gw pun mutusin untuk cari meja lain, dan pencarian gw berhenti di sebuah meja yang kosong yang berada di pojok dekat koleksi buku perpus. Gw pun maen laptop di meja itu sendiri kaya anak autis karena gw perhatiin semua meja ga ada yang diisi satu orang pasti pada rame-rame di satu meja, walau begitu gw ngerasa nyaman-nyaman aja, mungkin karena gw emang autis kali yah?
Tapi ternyata hotspot di kampus ga aktif, gak tau kenapa, mungkin karena lagi ujian kali yah? Tapi gw tetap berusaha, kali aja gw dapat mukjizat. Lagi asik ngotak-ngatik hotspot ehh Ijo (temen kelas pagi gw, dulu) nongol dengan kerudung tanpa berkalung surban, gw pun menyapa dia dengan melambaikan tangan sambil nyengir biawak, ehh dibales ama dia dengan lambaian tangan serta nyengir biawak pula.
Menurut gw ijo orangnnya baik, asik, lucu dan rada-rada agak o’on gitu, dan gw suka banget becanda ama orang yang gw anggap o’on. Dan akhirnya gw pun mutusin untuk samperin Ijo tapi ga ada bahan buat di bincangin, gw pun berpikir keras untuk dapat bahan nongkrong bareng Ijo. Akhirnya wangsit itu datang juga, gw pun mutusin untuk minta save-copy laporan Intel yang emang dari kemarin gw cari.
Tapi masalah lain muncul, gw bingung mau nyapa dia gimana. Mau bilang “apa kabar” udah ketahuan jawabannya, pasti dia jawab “gw baek koq Ash”. Kenapa gw tau, karena badan Ijo segar mulu, buktinya badannya subur tuh. Ehh maap, ternyata emang dari sananya Ijo udah gendut.
Ahh gw pun membulatkan tekad untuk tidak menggunakan kata pembuka, gw langsung aja ke pokok masalah. Gw pun samperin dia dengan wajah berseri, “Ijo lo udah ambil Intel kan?” Di jawab ama Ijo, “iya Ash, gw udah ambil”, dan gw pun malak dia, “gw minta save-copy nya donk” dan di jawab lagi ama Ijo “ada di computer gw, ini laptop temen gw”. Gw gak habis akal, gw pun bilang ama dia “Ijo hari kamis lo ada psi.eksperimen kan, lo bawa hari kamis yah”, dan Ijo pun menyanggupi.
Gw sih masih pengen ngobrol lama ama Ijo, tapi kayaknya dia lagi sibuk ama tugas kuliah jadi ga enak aja klo gw nimbrung ke mejanya. Gw pun balik ke meja gw dan musibah pun menyapa. Begitu gw duduk di kursi gw tiba-tiba aja, GUBRAAAAAAK!!! Meja itu patah dan runtuh sampai rata dengan tanah.
Seisi perpustakaan pun kaget, apalagi gw!! Orang-orang pada ngeliatin gw, gw terdiam sejenak, shock dengan apa yang baru terjadi. Apa salah gw? Gw cuma duduk dan runtuhlah meja itu. Gw pun menenangkan susana dengan berkata “tenang, ga usah kaget cukup gw aja yang kaget” tapi bukannya tenang, orang-orang di perpus pada ketawa sumringah ngeliat penderitaan batin gw.
Tiba-tiba aja gw ngerasa malu (akhirnya gw ngerasain juga yang namanya malu) karena di ketawain banyak orang, walaupun itu hal biasa karena kebodohan gw. Tapi yang ini bukan karena kebodohan gw, melainkan kebodohan sebuah meja yang tiba-tiba aja patah tanpa ada angin dan kentut.
Salah satu teman gw pun teriak, “Ash laptop lo!” Oiya, laptop gw masih ada di meja yang patah itu dan kondisi laptop gw sehat walafiat, dan gw pun bersyukur, “untung laptop gw selamat” dan kembali perpustakaan di penuhi galak tawa.
Gw bahkan sempat ngelirik ke arah Ijo yang tertawa sambil menundukkan kepalanya dimeja dan menutup wajahnya. Gw yakin banget dia ikut malu karena sebelum meja gw patah, gw samperin dia dulu.
Setelah gw terdiam di kursi yang mejanya udah patah itu, akhirnya mas-mas petugas perpus datang dan benerin mejanya, gw pun bergurau dengan maksud menyindir “waduh mas mejanya gak saya apa-apain eh patah, padahal saya udah bayar mahal”. Mas-masnya pun hanya senyum dan benerin mejanya, gw pun pindah ke meja orang yang ga gw kenal, bodo amat.
Begitu gw duduk, gw liat cewe di depan gw cengar-cengir. Gw pun biang ama dia kalau gw numpang duduk di sini karena kursi disana mejanya patah, eh dia malah ngakak didepan laptopnya. Gw pun jadi salah tingkah. Belom lagi orang-orang yang mau keluar perpus lewat depan gw sambil ketawa-ketawa terus ngeliatin gw sambil ngomong sesuatu tapi gw gak dengar.
Tapi tidak lama kemudian, temen gw Didit datang samperin gw dan minta tolong agar gw jadi Obyek Penelitian (OP) untuk tes Wategg mata kuliah grafis, karena emang ga ada kesibukan dan baru kena musibah “meja patah”, gw pun mengamini permintaan Didit.
Gw akhirnya meninggalkan perpus dengan kata terakhir yang (kembali) di sambut dengan galak tawa para penghuni perpus, “besok gw bakal pindah ke UI!!!”. Gw pun cabut dari perpus menuju lab psiko di lantai 3 dengan hati yang traumatik dengan kejadian barusan.
Gw gak tau ampe kapan gw gak ke perpus mengingat gw masih trauma dengan kejadian tadi sore. Jangankan masuk, ngeliatin perpus aja gw pasti teriak-teriak, tidaaaaakk-tidaaak, lebay!
Doain aja deh teman-teman supaya gw gak trauma masuk perpustakaan karena disanalah sumber ilmu terbesar dikampus gw. Belom lagi hari kamis gw janjian ama Ijo di perpus buat save-copy intel. Doain juga yah biar gw cepat punya kamera Nikon D70S, amiiinnn.
Ashben out…
*Sambil dengerin Roy Jeconiah – Kamu Nyata*
Sebelumnya selamat merayakan imlek yah bagi yang merayakan, semoga di tahun kerbau api (map klo salah) ini kalian semua bisa tambah lebih baik memaknai arti hidup.
Wah teman-teman tadi di perpustakaan kampus gw dapat pengalaman yang menghebohkan jiwa dan raga gw. Begini ceritanya, tadi sore sekitar pukul 16:30 WIB gw tiba di kampus untuk ngembaliin buku psi.eksperimennya Fajar temen gw, tapi ternyata pas gw nyampe kampus dia masih di rumahnya di Bekasi. Kampret lo jar.
Karena ga ada temen yang gw kenal nongkrong di loby kampus, gw pun langsung masuk ke kampus untuk online karena berhubung gw lagi bawa laptop. Di perpus lumayan lah ada sekitar lima orang gw kenal yang tergabung dalam satu meja, pengen gabung ama mereka tapi kursi udah penuh selain itu gw juga ga mau deket-deket ama mereka karena ntar pada ga konsen belajar gara-gara satu meja ama gw yang berisik banget kalau di perpus.
Alhasil gw pun mutusin untuk cari meja lain, dan pencarian gw berhenti di sebuah meja yang kosong yang berada di pojok dekat koleksi buku perpus. Gw pun maen laptop di meja itu sendiri kaya anak autis karena gw perhatiin semua meja ga ada yang diisi satu orang pasti pada rame-rame di satu meja, walau begitu gw ngerasa nyaman-nyaman aja, mungkin karena gw emang autis kali yah?
Tapi ternyata hotspot di kampus ga aktif, gak tau kenapa, mungkin karena lagi ujian kali yah? Tapi gw tetap berusaha, kali aja gw dapat mukjizat. Lagi asik ngotak-ngatik hotspot ehh Ijo (temen kelas pagi gw, dulu) nongol dengan kerudung tanpa berkalung surban, gw pun menyapa dia dengan melambaikan tangan sambil nyengir biawak, ehh dibales ama dia dengan lambaian tangan serta nyengir biawak pula.
Menurut gw ijo orangnnya baik, asik, lucu dan rada-rada agak o’on gitu, dan gw suka banget becanda ama orang yang gw anggap o’on. Dan akhirnya gw pun mutusin untuk samperin Ijo tapi ga ada bahan buat di bincangin, gw pun berpikir keras untuk dapat bahan nongkrong bareng Ijo. Akhirnya wangsit itu datang juga, gw pun mutusin untuk minta save-copy laporan Intel yang emang dari kemarin gw cari.
Tapi masalah lain muncul, gw bingung mau nyapa dia gimana. Mau bilang “apa kabar” udah ketahuan jawabannya, pasti dia jawab “gw baek koq Ash”. Kenapa gw tau, karena badan Ijo segar mulu, buktinya badannya subur tuh. Ehh maap, ternyata emang dari sananya Ijo udah gendut.
Ahh gw pun membulatkan tekad untuk tidak menggunakan kata pembuka, gw langsung aja ke pokok masalah. Gw pun samperin dia dengan wajah berseri, “Ijo lo udah ambil Intel kan?” Di jawab ama Ijo, “iya Ash, gw udah ambil”, dan gw pun malak dia, “gw minta save-copy nya donk” dan di jawab lagi ama Ijo “ada di computer gw, ini laptop temen gw”. Gw gak habis akal, gw pun bilang ama dia “Ijo hari kamis lo ada psi.eksperimen kan, lo bawa hari kamis yah”, dan Ijo pun menyanggupi.
Gw sih masih pengen ngobrol lama ama Ijo, tapi kayaknya dia lagi sibuk ama tugas kuliah jadi ga enak aja klo gw nimbrung ke mejanya. Gw pun balik ke meja gw dan musibah pun menyapa. Begitu gw duduk di kursi gw tiba-tiba aja, GUBRAAAAAAK!!! Meja itu patah dan runtuh sampai rata dengan tanah.
Seisi perpustakaan pun kaget, apalagi gw!! Orang-orang pada ngeliatin gw, gw terdiam sejenak, shock dengan apa yang baru terjadi. Apa salah gw? Gw cuma duduk dan runtuhlah meja itu. Gw pun menenangkan susana dengan berkata “tenang, ga usah kaget cukup gw aja yang kaget” tapi bukannya tenang, orang-orang di perpus pada ketawa sumringah ngeliat penderitaan batin gw.
Tiba-tiba aja gw ngerasa malu (akhirnya gw ngerasain juga yang namanya malu) karena di ketawain banyak orang, walaupun itu hal biasa karena kebodohan gw. Tapi yang ini bukan karena kebodohan gw, melainkan kebodohan sebuah meja yang tiba-tiba aja patah tanpa ada angin dan kentut.
Salah satu teman gw pun teriak, “Ash laptop lo!” Oiya, laptop gw masih ada di meja yang patah itu dan kondisi laptop gw sehat walafiat, dan gw pun bersyukur, “untung laptop gw selamat” dan kembali perpustakaan di penuhi galak tawa.
Gw bahkan sempat ngelirik ke arah Ijo yang tertawa sambil menundukkan kepalanya dimeja dan menutup wajahnya. Gw yakin banget dia ikut malu karena sebelum meja gw patah, gw samperin dia dulu.
Setelah gw terdiam di kursi yang mejanya udah patah itu, akhirnya mas-mas petugas perpus datang dan benerin mejanya, gw pun bergurau dengan maksud menyindir “waduh mas mejanya gak saya apa-apain eh patah, padahal saya udah bayar mahal”. Mas-masnya pun hanya senyum dan benerin mejanya, gw pun pindah ke meja orang yang ga gw kenal, bodo amat.
Begitu gw duduk, gw liat cewe di depan gw cengar-cengir. Gw pun biang ama dia kalau gw numpang duduk di sini karena kursi disana mejanya patah, eh dia malah ngakak didepan laptopnya. Gw pun jadi salah tingkah. Belom lagi orang-orang yang mau keluar perpus lewat depan gw sambil ketawa-ketawa terus ngeliatin gw sambil ngomong sesuatu tapi gw gak dengar.
Tapi tidak lama kemudian, temen gw Didit datang samperin gw dan minta tolong agar gw jadi Obyek Penelitian (OP) untuk tes Wategg mata kuliah grafis, karena emang ga ada kesibukan dan baru kena musibah “meja patah”, gw pun mengamini permintaan Didit.
Gw akhirnya meninggalkan perpus dengan kata terakhir yang (kembali) di sambut dengan galak tawa para penghuni perpus, “besok gw bakal pindah ke UI!!!”. Gw pun cabut dari perpus menuju lab psiko di lantai 3 dengan hati yang traumatik dengan kejadian barusan.
Gw gak tau ampe kapan gw gak ke perpus mengingat gw masih trauma dengan kejadian tadi sore. Jangankan masuk, ngeliatin perpus aja gw pasti teriak-teriak, tidaaaaakk-tidaaak, lebay!
Doain aja deh teman-teman supaya gw gak trauma masuk perpustakaan karena disanalah sumber ilmu terbesar dikampus gw. Belom lagi hari kamis gw janjian ama Ijo di perpus buat save-copy intel. Doain juga yah biar gw cepat punya kamera Nikon D70S, amiiinnn.
Ashben out…
Sange Kamera nih...
24 januari 2009, sabtu 03:04 dini hari (waktu kontrakan)
*sambil dengerin Avenged Sevenfold - Bat Country*
Woi lama gak update, buset hampir sebulan gw ga ngeblog. Maklum aja pemirsa gw lagi sibuk ujian kuliah, ujian Jong Pewarta dan sibuk menyembuhkan badan yang akhirnya penyakitnya sudah terdeksi oleh dokter (gw ga mau bilang penyakit apa) setelah melalui perjalanan panjang yang berliku dan biaya yang tidak sedikit (untuk kalangan mahasiswa bokek) yaitu 800ribu aja.
Walau begitu gw tetap harus kedokter lagi dua hari sebelum obat gw habis yaitu hari ke-13 karena gw dikasi obat untuk 15 hari kedepan. Awalnya kaget sih kalau gw menderita penyakit ini tapi sejak pertama berobat gw emang udah memperkirakan penyakit ini tapi dokternya tetap aja keukeuh untuk jalani tes (yang super ribet) biar hasilnya pasti.
Oiya sekarang gw benar-benar lagi tergila-gila ama yang namanya kamera, lebih tepatnya sih lagi jatuh cinta ama dunia fotografi dan kamera adalah komponen paling utama dalam dunia fotografi. Ok, gw emang ga punya kamera digital maupun film (Poket ga ada apalagi SLR) tetapi itu semua bisa disiasati dengan kamera handphone (HP). Tapi ironisnya HP kamera gw juga ga punya. Maka jadilah seorang yang berbakat ini jalan ditempat.
Padahal naluri gw sebagai pengambil gambar sudah tidak perlu diragukan tapi sayang hasilnya kebanyakan gagal seperti out of focus, shacking dan banyak lagi kegagalan yang udah gw lakukan. Walau begitu gw tetap pengen jadi fotografer handal dengan cara belajar dan terus belajar. Tapi gimana mau belajar, membaca saja aku sulit, maksudnya kamera aja gw kaga punya gimana mau jadi fotografer? Oiya ini salah satu hasil jepretan gw di salah satu halte busway di daerah Sudirman:
.JPG)
Tapi suatu hari gw liat iklan susu frisianflag di tipi tentang seorang cewe yang pengen banget punya MP4player seperti milik temannya yang dilihat di perpustakaan, terus sang cewe pun menabung untuk mendapatkan barang impiannya yaitu MP4player. Gw pun terkontaminasi dengan iklan tersebut, dan akhirnya gw pun memutuskan untuk mengikuti langkah sang cewe yang ada diiklan susu tersebut, yaitu menabung, yah MENABUNG!
Gw pun langsung berinisiatif untuk membeli celengan untuk menabung, gw pilih pake celengan dan tidak menggunakan jasa bank karena di celengan tidak dipungut pajak seperti yang ada di bank. Tapi setelah memeriksa kantong celana ternyata duit gw cuma cukup untuk biaya hidup sampai awal bulan (itupun kurang dikit) dan akhirnya gw pun batal untuk beli celengan.
Rencana B pun siap gw jalankan yaitu menunda sampai kiriman awal bulan depan datang, sambil menunggu gw ga mau tinggal diam. Gw pun merencanakan penghematan untuk bulan depan biar memiliki kamera cepat terealisasi. Lalu gw mulai meminimalisir pengeluaran gw seperti makan di kampus (yang harga seporsinya sama dengan tarif empat jam warnet) gw ganti dengan spageti gocengan yang gw buat di kontrakan kemudian dibawa ke kampus, terus kebiasaan minum kopi di warung kayanya bakal gw kurangin juga, dan pengeluaran lain seperti pulsa dan siomay.
Selain menyusun pengeluaran gw juga mengisi waktu menunggu kiriman dengan mencari informasi tentang kamera yang cocok buat gw. Gw pun berkonsultasi dengan dua orang yang gw anggap guru dibidang fotografi yaitu bang Sandi (senior/pendiri JePe) dan Coepid (anak tripot), dan terpilihlah dua jenis kamera yang masuk incaran gw yaitu, Nikon D70S dan Nikon D300. Tapi begitu gw dengar harga pasarannya gw kaget setengah mati, gimana enggak kalau D70S itu harga pasarannya 6,5juta sampai 8juta. Belum lagi D300 yang mencapai angka 16juta! Ampunnnn dah!
Tapi gw gak mau putus asa mengejar matahariku (baca: kamera) yang udah gw idam-idamkan ini, dan gw juga mutusin untuk mengejar nikon D70S aja karena nikon D300 sangat mahal. Dan gw pun memasang target sekitar 3tahun kamera itu udah bisa gw beli, doain yah.
Sebenarnya sih gw pernah semaniak ini dengan sesuatu seperti waktu SMA dulu, dimana gw lagi tergila-gila ama yang berhubungan dengan basket mulai dari sepatu basket, baju basket dan accesoris yang berbau basket. Begitu pula waktu gw baru tiba di Jakarta, tepatnya tiga tahun lalu gw maniak banget ama band legendaris U2. sampai nama blog gw ini (coexist), gw ambil dari latar belakang panggung U2 di Vertigo tour Chicago 2006.
Tapi dari sekian banyak sesuatu yang gw pengen miliki baru ini (kamera) yang masuk ke mimpi gw sampai lima kali dalam seminggu. Tapi gw sadar bahwa ini bakal lama terwujud kalau gw tidak berubah, seperti di iklan susu Frisianflag itu, PERUBAHAN KECIL ITU BISA MENJADI BESAR. Kurang lebih seperti itu.
Ashben out…
*sambil dengerin Avenged Sevenfold - Bat Country*
Woi lama gak update, buset hampir sebulan gw ga ngeblog. Maklum aja pemirsa gw lagi sibuk ujian kuliah, ujian Jong Pewarta dan sibuk menyembuhkan badan yang akhirnya penyakitnya sudah terdeksi oleh dokter (gw ga mau bilang penyakit apa) setelah melalui perjalanan panjang yang berliku dan biaya yang tidak sedikit (untuk kalangan mahasiswa bokek) yaitu 800ribu aja.
Walau begitu gw tetap harus kedokter lagi dua hari sebelum obat gw habis yaitu hari ke-13 karena gw dikasi obat untuk 15 hari kedepan. Awalnya kaget sih kalau gw menderita penyakit ini tapi sejak pertama berobat gw emang udah memperkirakan penyakit ini tapi dokternya tetap aja keukeuh untuk jalani tes (yang super ribet) biar hasilnya pasti.
Oiya sekarang gw benar-benar lagi tergila-gila ama yang namanya kamera, lebih tepatnya sih lagi jatuh cinta ama dunia fotografi dan kamera adalah komponen paling utama dalam dunia fotografi. Ok, gw emang ga punya kamera digital maupun film (Poket ga ada apalagi SLR) tetapi itu semua bisa disiasati dengan kamera handphone (HP). Tapi ironisnya HP kamera gw juga ga punya. Maka jadilah seorang yang berbakat ini jalan ditempat.
Padahal naluri gw sebagai pengambil gambar sudah tidak perlu diragukan tapi sayang hasilnya kebanyakan gagal seperti out of focus, shacking dan banyak lagi kegagalan yang udah gw lakukan. Walau begitu gw tetap pengen jadi fotografer handal dengan cara belajar dan terus belajar. Tapi gimana mau belajar, membaca saja aku sulit, maksudnya kamera aja gw kaga punya gimana mau jadi fotografer? Oiya ini salah satu hasil jepretan gw di salah satu halte busway di daerah Sudirman:
.JPG)
Tapi suatu hari gw liat iklan susu frisianflag di tipi tentang seorang cewe yang pengen banget punya MP4player seperti milik temannya yang dilihat di perpustakaan, terus sang cewe pun menabung untuk mendapatkan barang impiannya yaitu MP4player. Gw pun terkontaminasi dengan iklan tersebut, dan akhirnya gw pun memutuskan untuk mengikuti langkah sang cewe yang ada diiklan susu tersebut, yaitu menabung, yah MENABUNG!
Gw pun langsung berinisiatif untuk membeli celengan untuk menabung, gw pilih pake celengan dan tidak menggunakan jasa bank karena di celengan tidak dipungut pajak seperti yang ada di bank. Tapi setelah memeriksa kantong celana ternyata duit gw cuma cukup untuk biaya hidup sampai awal bulan (itupun kurang dikit) dan akhirnya gw pun batal untuk beli celengan.
Rencana B pun siap gw jalankan yaitu menunda sampai kiriman awal bulan depan datang, sambil menunggu gw ga mau tinggal diam. Gw pun merencanakan penghematan untuk bulan depan biar memiliki kamera cepat terealisasi. Lalu gw mulai meminimalisir pengeluaran gw seperti makan di kampus (yang harga seporsinya sama dengan tarif empat jam warnet) gw ganti dengan spageti gocengan yang gw buat di kontrakan kemudian dibawa ke kampus, terus kebiasaan minum kopi di warung kayanya bakal gw kurangin juga, dan pengeluaran lain seperti pulsa dan siomay.
Selain menyusun pengeluaran gw juga mengisi waktu menunggu kiriman dengan mencari informasi tentang kamera yang cocok buat gw. Gw pun berkonsultasi dengan dua orang yang gw anggap guru dibidang fotografi yaitu bang Sandi (senior/pendiri JePe) dan Coepid (anak tripot), dan terpilihlah dua jenis kamera yang masuk incaran gw yaitu, Nikon D70S dan Nikon D300. Tapi begitu gw dengar harga pasarannya gw kaget setengah mati, gimana enggak kalau D70S itu harga pasarannya 6,5juta sampai 8juta. Belum lagi D300 yang mencapai angka 16juta! Ampunnnn dah!
Tapi gw gak mau putus asa mengejar matahariku (baca: kamera) yang udah gw idam-idamkan ini, dan gw juga mutusin untuk mengejar nikon D70S aja karena nikon D300 sangat mahal. Dan gw pun memasang target sekitar 3tahun kamera itu udah bisa gw beli, doain yah.
Sebenarnya sih gw pernah semaniak ini dengan sesuatu seperti waktu SMA dulu, dimana gw lagi tergila-gila ama yang berhubungan dengan basket mulai dari sepatu basket, baju basket dan accesoris yang berbau basket. Begitu pula waktu gw baru tiba di Jakarta, tepatnya tiga tahun lalu gw maniak banget ama band legendaris U2. sampai nama blog gw ini (coexist), gw ambil dari latar belakang panggung U2 di Vertigo tour Chicago 2006.
Tapi dari sekian banyak sesuatu yang gw pengen miliki baru ini (kamera) yang masuk ke mimpi gw sampai lima kali dalam seminggu. Tapi gw sadar bahwa ini bakal lama terwujud kalau gw tidak berubah, seperti di iklan susu Frisianflag itu, PERUBAHAN KECIL ITU BISA MENJADI BESAR. Kurang lebih seperti itu.
Ashben out…
Jumat, 02 Januari 2009
DESEMBER YANG ANEH (pt.3)
27 desember 2008, sabtu 02:22 (waktu kontrakan)
Ampun dah bulan desember ini benar-benar berat buat gw, awalnya gw berangapan bahwa tiada istilah hari sial atau bulan sial karena menurut gw badai itu pasti belalu, sekali lagi ah BADAI ITU PASTI BERLALU, tapi ga tau badai ini koq masih betah ama gw?
Karena udah cukup lama, nyokap pun nyuruh gw kerumah sakit untuk periksa penyakit gw ini. Gw emang orangnya gampangan, eits jangan salah kaprah, gampangan maksudnya kalo disuruh ma nyokap gw langsung jalanin, begitu juga kalo di minta tolong dan di minta kawin, pasti gampang buat gw!
Gw pun beranjak ke rumah sakit yang sering gw dengar tapi belom pernah pergi kesana, yaitu RS.Fatmawati yang bertempat di Jakarta selatan. Mengapa gw kesitu? Rian (mpok gw) adalah tersangka utamanya, yup dialah yang nyuruh gw ke Fatmawati yang merupakan rumah sakit super ribet menurut gw.
Alasan mengapa gw di rekomendasikan kesana tidak lain karena dia pernah menderita penyakit yang hampir mirip dengan penyakit gw sekarang dan setelah berobat di sana dia pun sembuh dengan selamat. Akhirnya gw pun setuju untuk berobat ke sana, dengan berat hati tentunya.
Setelah meminta restu kepada sang ibunda dan mendapatkan uang untuk ke dokter gw pun berencana ke rumah sakit pada selasa pagi (tanggal 23) dengan bantuan dari mas Aji cowoknya Rian. Setelah di bangunkan dari tidur dengan susah payah oleh Rian, gw pun beranjak ke Fatmawati dengan hanya bermodalkan cuci muka dan sikat gigi, karena dengan alasan suhu yang dingin banget tapi alasan sebenarnya sih gw males banget mandi di pagi hari, gw kan biasa mandi siang berhubung gw kuliah sore, iya gw tau klo gw jorok.
Perjalanan di pagi hari itu pun terbilang menyenangkan bagi gw, maklum aja gw kan baru naik motor menuju Jakarta di pagi hari. Cuaca yang mendung cerah di pagi itu bener-bener membuat gw tenang banget untuk menghadapi sang dokter nanti. Tapi siapa sangka klo sampai disana gw harus ngantri dengan pasien lain yang bujubuneng, banyak banget! Gw dapet nomor antrian 73 sedangkan pada saat itu antrian baru nomor 42, gw pun nunggu ditemenn mas Aji yang setia menemaniku saat itu.
Penderitaan gw belum berakhir setelah menunggu antrian, ternyata cobaan kembali menyapa. Setelah menunggu selama sejam lebih, tibalah nomor antrian gw, 73! Tapi oh my god, ternyata gw harus ngisi formulir pasien dulu! Akhirnya gw balik lagi ke meja resepsionis untuk mengisi formulir sialan itu dan mulai mendaftar di loket dan membayar kemudian gw naik ke lantai tiga untuk ke dokter yang gw tuju yaitu ahli paru.
Tapi ternyata tuhan masih mau menguji kesabaran hambanya yang sedang sakit ini. Gw kira setelah naik gw langsung ketemu dokter tapi ternyata gw harus menjalani tiga proses lagi sodar-sodara, cape deh (emank cape)! Proses pertama yaitu, mendaftar untuk pasien baru dan ini juga memakan waktu yang ga cepat, sampai akhirnya setelah menunggu kurang lebih sejam, akhirnya nama gw disebut.
Setelah itu gw kira gw bakal langsung ketemu ama dokter ehh taunya nama gw disebut itu untuk membayar di kasir, itu bisa dibilang proses kedua. Dan proses ketiga adalah menunggu nama gw disebut untuk (akhirnya) ketemu ama dokternya. Tapi ternyata disinilah puncak kesabaran gw di uji karena masayaoloh nunggunya ada sekitar tiga jam, iyah TIGA JAM!!
Jadi kira-kira gw menunggu untuk ketemu dokter dari pertama daftar sampai nama gw disebut untuk ketemu dokternya adalah selama empat jam, sekali lagi ah biar nambah kesan dramatisnya, EMPAT JAM saja sodara-sodara!! Bayangin aja menunggu empat jam ga ngapa-ngapain dan belum mandi, ampun dah! Tapi untung aja mas aji masih betah nemenin gw dan yang paling penting dia masih tahan dengan bau badan gw yang belum mandi, heheheheh!
Setelah nama gw disebut untuk masuk ketemu dokternya gw pun langsung nyelonong masuk keruang praktek dokternya tapi ditahan ma ibu-ibu di depan pintu, katanya “ntar mas tungguin yang didalam keluar dulu”. Duh pikiran gw melayang lagi, apakah gw harus menunggu lagi? Apakah sejam kemudian baru giliran gw? Apakah Asmirandah ada didalam ruang praktek? Semua pikiran itu gw buang jauh-jauh biar gw tenang ketemu ama dokternya.
Tapi ternyata pemirsa, gw hanya menunggu kurang lebih sepuluh menit untuk nungguin pasien di dalam buat keluar, dan itu membuat gw kecewa. Kecewa bukan karena gw menunggu sepuluh menit, tapi yang biking gw kecewa adalah yang keluar dari ruang praktek itu ternyata bukan Asmirandah! Gw pengen teriak kenceng TIDAAAK untuk melampiaskan kekecewaan gw tapi urung gw lakuin, ngerinya ntar gw dikira sakit jiwa bukan sakit paru-paru.
Gw pun masuk ke ruang praktek yang di sambut ramah oleh sang ibu dokter yang udah ibu-ibu, yaiyalah masa bapak-bapak. Kata bu dokter begitu gw masuk dia nyambut gw, “dengan mas asrif? Baru pertama yah?”, gw pun jawab, “ini bukan yang pertama koq dok, saya sering ke dokter lain tapi baru kali ini periksa di Fatmawati”, bu dokter kemudian senyum trus bilang, “iyah, maksud saya, kamu baru pertama kali ke Fatmawati” gw pun jawab lagi, “gak koq dok, saya pernah ke Fatmawati buat nganterin kakak saya chek up beberapa bulan yang lalu.” Akhirnya bu dokter pun diam dan gw nyengir.
Kesan pertama gw setelah nemenin bu dokter ngobrol, sebenarnya dia baik tapi udah capek kali ya, ampe dia ngomongnya cepet-cepet gitu. Yah pikiran gw sih, biar gw cepet keluar dan dia terbebas dari pasien yang nyebelin kaya gw. Sang dokter pun langsung nyuruh gw baring di tempat tidur sambil ngeluarin stetoskopnya. Karena waktu itu gw ngerasa sehat bugar aja dan sang dokter pun diem aja, gw pun bertindak layaknya orang yang sakit parah dengan batuk segede-gedenya. Kata dokter pun, dahagnya banyak yah, dan dokter pun balik ke kursinya dan gw ngerasa udah selesai.
Tapi berhubung gw ngerasa udah menunggu lama (baca: empat jam), gw pun gak mau cepat-cepat keluar dari ruangan dokter. Gw pun mancing dokter buat ngobrol lagi dan dia pun terpancing, tapi bodohnya gw ga ngomongin penyebab penyakit gw, yang merupakan tujuan utama gw ke dokter. Sang ibu dokter pun ngajakin gw ngobrol sambil nulis resep, “namanya asrif atau asraf neh? Koq mirip ama suaminya sapa tuh yang artis itu?” kata bu dokter. Mahasiswa Co-ass (yang cakep) pun jawab, “bunga citra lestari, bu”, gw pun kaget dibilang mirip dengan suaminya BCL. Gw pun membela diri dengan bilang, “saya asrif bu, bukan asraf suaminya BCL, emang mirip tapi masih gantengan saya dari pada dia”, sang dokter dan mahasiswa Co-ass pun nyengir.
Setelah ngobrol ringan sang dokter pun menyuruh gw roentgen dan chek di laboratorium dan baliklagi setelah semuanya rampung. Pikiran gw pun melayang layaknya layang-layang, gw sakit apa neh mpe disuruh rotgen dan chek di lab? Tanpa berpikir jorok, gw pun langsung ke apotik membeli obat yang di anjurkan dan ke tempat roentgen abiz itu ke lab, tapi lab udah tutup.
Sumpah ribet banget, ampe sekarang (tanggal 31) pun gw belum menuntaskan urusan gw dengan lab yang membuat gw belum bisa chek-up ke dokter yang tadi. Tapi penyakit gw mendingan sih, gw udah ga panas, ga puyeng dan ga ngompol lagi tapi masih batuk. Rencana gw pun, tepat hari terakhir di bulan desember ini gw pengen ke lab Fatamawati, doain yah biar lancar.
Oiya, met tahun baru yah! Semoga di 2009 ini menjadi lebih baik, aminnnn!
Ashben out…
Ampun dah bulan desember ini benar-benar berat buat gw, awalnya gw berangapan bahwa tiada istilah hari sial atau bulan sial karena menurut gw badai itu pasti belalu, sekali lagi ah BADAI ITU PASTI BERLALU, tapi ga tau badai ini koq masih betah ama gw?
Karena udah cukup lama, nyokap pun nyuruh gw kerumah sakit untuk periksa penyakit gw ini. Gw emang orangnya gampangan, eits jangan salah kaprah, gampangan maksudnya kalo disuruh ma nyokap gw langsung jalanin, begitu juga kalo di minta tolong dan di minta kawin, pasti gampang buat gw!
Gw pun beranjak ke rumah sakit yang sering gw dengar tapi belom pernah pergi kesana, yaitu RS.Fatmawati yang bertempat di Jakarta selatan. Mengapa gw kesitu? Rian (mpok gw) adalah tersangka utamanya, yup dialah yang nyuruh gw ke Fatmawati yang merupakan rumah sakit super ribet menurut gw.
Alasan mengapa gw di rekomendasikan kesana tidak lain karena dia pernah menderita penyakit yang hampir mirip dengan penyakit gw sekarang dan setelah berobat di sana dia pun sembuh dengan selamat. Akhirnya gw pun setuju untuk berobat ke sana, dengan berat hati tentunya.
Setelah meminta restu kepada sang ibunda dan mendapatkan uang untuk ke dokter gw pun berencana ke rumah sakit pada selasa pagi (tanggal 23) dengan bantuan dari mas Aji cowoknya Rian. Setelah di bangunkan dari tidur dengan susah payah oleh Rian, gw pun beranjak ke Fatmawati dengan hanya bermodalkan cuci muka dan sikat gigi, karena dengan alasan suhu yang dingin banget tapi alasan sebenarnya sih gw males banget mandi di pagi hari, gw kan biasa mandi siang berhubung gw kuliah sore, iya gw tau klo gw jorok.
Perjalanan di pagi hari itu pun terbilang menyenangkan bagi gw, maklum aja gw kan baru naik motor menuju Jakarta di pagi hari. Cuaca yang mendung cerah di pagi itu bener-bener membuat gw tenang banget untuk menghadapi sang dokter nanti. Tapi siapa sangka klo sampai disana gw harus ngantri dengan pasien lain yang bujubuneng, banyak banget! Gw dapet nomor antrian 73 sedangkan pada saat itu antrian baru nomor 42, gw pun nunggu ditemenn mas Aji yang setia menemaniku saat itu.
Penderitaan gw belum berakhir setelah menunggu antrian, ternyata cobaan kembali menyapa. Setelah menunggu selama sejam lebih, tibalah nomor antrian gw, 73! Tapi oh my god, ternyata gw harus ngisi formulir pasien dulu! Akhirnya gw balik lagi ke meja resepsionis untuk mengisi formulir sialan itu dan mulai mendaftar di loket dan membayar kemudian gw naik ke lantai tiga untuk ke dokter yang gw tuju yaitu ahli paru.
Tapi ternyata tuhan masih mau menguji kesabaran hambanya yang sedang sakit ini. Gw kira setelah naik gw langsung ketemu dokter tapi ternyata gw harus menjalani tiga proses lagi sodar-sodara, cape deh (emank cape)! Proses pertama yaitu, mendaftar untuk pasien baru dan ini juga memakan waktu yang ga cepat, sampai akhirnya setelah menunggu kurang lebih sejam, akhirnya nama gw disebut.
Setelah itu gw kira gw bakal langsung ketemu ama dokter ehh taunya nama gw disebut itu untuk membayar di kasir, itu bisa dibilang proses kedua. Dan proses ketiga adalah menunggu nama gw disebut untuk (akhirnya) ketemu ama dokternya. Tapi ternyata disinilah puncak kesabaran gw di uji karena masayaoloh nunggunya ada sekitar tiga jam, iyah TIGA JAM!!
Jadi kira-kira gw menunggu untuk ketemu dokter dari pertama daftar sampai nama gw disebut untuk ketemu dokternya adalah selama empat jam, sekali lagi ah biar nambah kesan dramatisnya, EMPAT JAM saja sodara-sodara!! Bayangin aja menunggu empat jam ga ngapa-ngapain dan belum mandi, ampun dah! Tapi untung aja mas aji masih betah nemenin gw dan yang paling penting dia masih tahan dengan bau badan gw yang belum mandi, heheheheh!
Setelah nama gw disebut untuk masuk ketemu dokternya gw pun langsung nyelonong masuk keruang praktek dokternya tapi ditahan ma ibu-ibu di depan pintu, katanya “ntar mas tungguin yang didalam keluar dulu”. Duh pikiran gw melayang lagi, apakah gw harus menunggu lagi? Apakah sejam kemudian baru giliran gw? Apakah Asmirandah ada didalam ruang praktek? Semua pikiran itu gw buang jauh-jauh biar gw tenang ketemu ama dokternya.
Tapi ternyata pemirsa, gw hanya menunggu kurang lebih sepuluh menit untuk nungguin pasien di dalam buat keluar, dan itu membuat gw kecewa. Kecewa bukan karena gw menunggu sepuluh menit, tapi yang biking gw kecewa adalah yang keluar dari ruang praktek itu ternyata bukan Asmirandah! Gw pengen teriak kenceng TIDAAAK untuk melampiaskan kekecewaan gw tapi urung gw lakuin, ngerinya ntar gw dikira sakit jiwa bukan sakit paru-paru.
Gw pun masuk ke ruang praktek yang di sambut ramah oleh sang ibu dokter yang udah ibu-ibu, yaiyalah masa bapak-bapak. Kata bu dokter begitu gw masuk dia nyambut gw, “dengan mas asrif? Baru pertama yah?”, gw pun jawab, “ini bukan yang pertama koq dok, saya sering ke dokter lain tapi baru kali ini periksa di Fatmawati”, bu dokter kemudian senyum trus bilang, “iyah, maksud saya, kamu baru pertama kali ke Fatmawati” gw pun jawab lagi, “gak koq dok, saya pernah ke Fatmawati buat nganterin kakak saya chek up beberapa bulan yang lalu.” Akhirnya bu dokter pun diam dan gw nyengir.
Kesan pertama gw setelah nemenin bu dokter ngobrol, sebenarnya dia baik tapi udah capek kali ya, ampe dia ngomongnya cepet-cepet gitu. Yah pikiran gw sih, biar gw cepet keluar dan dia terbebas dari pasien yang nyebelin kaya gw. Sang dokter pun langsung nyuruh gw baring di tempat tidur sambil ngeluarin stetoskopnya. Karena waktu itu gw ngerasa sehat bugar aja dan sang dokter pun diem aja, gw pun bertindak layaknya orang yang sakit parah dengan batuk segede-gedenya. Kata dokter pun, dahagnya banyak yah, dan dokter pun balik ke kursinya dan gw ngerasa udah selesai.
Tapi berhubung gw ngerasa udah menunggu lama (baca: empat jam), gw pun gak mau cepat-cepat keluar dari ruangan dokter. Gw pun mancing dokter buat ngobrol lagi dan dia pun terpancing, tapi bodohnya gw ga ngomongin penyebab penyakit gw, yang merupakan tujuan utama gw ke dokter. Sang ibu dokter pun ngajakin gw ngobrol sambil nulis resep, “namanya asrif atau asraf neh? Koq mirip ama suaminya sapa tuh yang artis itu?” kata bu dokter. Mahasiswa Co-ass (yang cakep) pun jawab, “bunga citra lestari, bu”, gw pun kaget dibilang mirip dengan suaminya BCL. Gw pun membela diri dengan bilang, “saya asrif bu, bukan asraf suaminya BCL, emang mirip tapi masih gantengan saya dari pada dia”, sang dokter dan mahasiswa Co-ass pun nyengir.
Setelah ngobrol ringan sang dokter pun menyuruh gw roentgen dan chek di laboratorium dan baliklagi setelah semuanya rampung. Pikiran gw pun melayang layaknya layang-layang, gw sakit apa neh mpe disuruh rotgen dan chek di lab? Tanpa berpikir jorok, gw pun langsung ke apotik membeli obat yang di anjurkan dan ke tempat roentgen abiz itu ke lab, tapi lab udah tutup.
Sumpah ribet banget, ampe sekarang (tanggal 31) pun gw belum menuntaskan urusan gw dengan lab yang membuat gw belum bisa chek-up ke dokter yang tadi. Tapi penyakit gw mendingan sih, gw udah ga panas, ga puyeng dan ga ngompol lagi tapi masih batuk. Rencana gw pun, tepat hari terakhir di bulan desember ini gw pengen ke lab Fatamawati, doain yah biar lancar.
Oiya, met tahun baru yah! Semoga di 2009 ini menjadi lebih baik, aminnnn!
Ashben out…
Langganan:
Postingan (Atom)